Testimoni publik adalah pernyataan tertulis atau lisan yang kamu sampaikan ke pembuat kebijakan, biasanya dalam rapat dengar pendapat atau konsultasi publik, untuk mempengaruhi isi sebuah RUU. Menyusunnya butuh tiga hal: pemahaman atas pasal yang hendak diubah, argumen berbasis data, dan format yang bisa langsung dipakai panitia. Panduan ini menguraikan langkahnya satu per satu.
Kenali jalur resmi masuknya testimoni
Sebelum menulis apa pun, pastikan badan mana yang sedang membahas RUU tersebut. Di DPR, pembahasan berlangsung di rapat komisi, badan legislasi, atau panitia khusus. Masing-masing punya mekanisme berbeda untuk menerima masukan.
Beberapa jalur yang lazim tersedia:
- Rapat dengar pendapat umum (RDPU), di mana organisasi atau individu diundang menyampaikan pandangan secara lisan.
- Konsultasi publik yang dibuka kementerian atau lembaga pemrakarsa, biasanya lewat situs resmi.
- Surat resmi ke pimpinan komisi, yang bisa menjadi pintu masuk bila kamu tidak diundang tetapi punya kepentingan langsung.
- Uji publik terbatas yang kadang diadakan di daerah bersama pemerintah provinsi.
Kalau kamu belum tahu posisi RUU dalam tahapan pembahasan, pantau dulu perkembangannya. Cara memantau kebijakan publik secara mandiri bisa jadi titik mulai sebelum kamu menyusun dokumen apa pun.
Baca draf dan tandai pasal yang relevan
Testimoni yang berguna biasanya menempel pada pasal, bukan pada judul RUU. Kalau kamu hanya menyampaikan sikap “setuju” atau “tolak”, panitia tidak punya apa pun untuk dikerjakan.
Lakukan penandaan bertingkat. Ambil draf resmi (bukan rangkuman media), cetak atau buka di layar, lalu tandai:
- Pasal yang mengubah hak atau kewajiban warga.
- Pasal yang memberi kewenangan baru kepada lembaga tertentu.
- Pasal yang mengatur sanksi, denda, atau pidana.
- Pasal peralihan dan ketentuan berlaku, yang sering luput dibaca padahal menentukan implementasi.
Untuk setiap pasal yang kamu tandai, catat satu kalimat soal apa yang berubah bila pasal itu lolos apa adanya. Catatan ini akan jadi tulang punggung testimoni.
Bangun argumen yang bisa diperiksa
Argumen kuat adalah argumen yang bisa dilacak sumbernya. Kamu tidak perlu menjadi akademisi, tapi kamu perlu menyebut dari mana angka atau klaimmu berasal.
Beberapa jenis bahan yang biasanya diterima baik:
- Data resmi dari badan statistik, kementerian, atau pemerintah daerah.
- Putusan pengadilan yang relevan dengan isu yang diatur.
- Catatan lapangan dari komunitas yang terdampak, lengkap dengan lokasi dan waktu.
- Perbandingan dengan aturan serupa di daerah lain atau negara lain, sebutkan sumbernya.
Hindari klaim seperti “banyak orang menolak” tanpa angka. Kalau kamu punya survei sendiri, sebutkan metode dan jumlah respondennya. Kalau tidak ada, jangan mengarang proporsi.
Susun struktur testimoni tertulis
Dokumen testimoni yang efektif jarang lebih dari lima halaman. Panitia membaca banyak berkas, jadi kejelasan lebih berharga daripada ketebalan.
Struktur yang lazim dipakai:
- Identitas dan kepentingan: siapa kamu, lembaga apa, dan mengapa terlibat. Satu paragraf cukup.
- Ringkasan posisi: dua sampai tiga poin utama, masing-masing satu kalimat.
- Uraian per pasal: sebut nomor pasal, kutip frasa yang dipersoalkan, jelaskan masalahnya, lalu ajukan usulan rumusan alternatif.
- Dampak bila tidak diubah: jelaskan siapa yang dirugikan dan bagaimana.
- Penutup dan kontak: nama, jabatan, surel, dan nomor yang bisa dihubungi.
Bagian usulan rumusan alternatif sering diabaikan. Di situlah nilai tambah testimoni. Kalau kamu menolak sebuah frasa, tuliskan versi penggantinya. Panitia bisa langsung membandingkan.
Testimoni yang hanya menolak memaksa panitia menebak apa yang kamu inginkan. Testimoni yang menawarkan rumusan memberi mereka pilihan.
Siapkan versi lisan untuk rapat dengar pendapat
Kalau kamu diundang ke RDPU, waktu bicara biasanya dibatasi lima sampai sepuluh menit. Versi lisan bukan bacaan lengkap dari dokumen tertulis.
Potong jadi tiga bagian: pembuka 30 detik, dua argumen utama, dan permintaan spesifik. Bawa dokumen tertulis sebagai lampiran, lalu serahkan ke sekretariat rapat.
Latihan membaca dengan pengatur waktu. Kalau melebihi batas, potong bagian yang paling lemah, bukan bagian yang paling akhir.
Antisipasi pertanyaan dan bantahan
Anggota dewan atau pejabat biasanya menanyakan tiga hal: sumber data, siapa yang kamu wakili, dan apa dampak biaya dari usulanmu. Siapkan jawaban singkat untuk ketiganya.
Kalau usulanmu menambah beban anggaran, sebut perkiraan besarnya dan dari pos mana. Kalau usulanmu mengurangi penerimaan negara, jelaskan kompensasinya. Mengakui keterbatasan data lebih kredibel daripada berpura-pura tahu segalanya.
Untuk memahami pilihan strategi yang lebih luas, misalnya kapan sebaiknya menempuh jalur lobi dan kapan menempuh jalur lain, kamu bisa membaca perbandingan jalur advokasi kebijakan: lobi, koalisi, hingga gugatan. Testimoni publik biasanya paling kuat bila digabung dengan salah satu jalur tersebut, bukan berdiri sendiri.
Kirim, catat, dan tindak lanjuti
Setelah dokumen dikirim, minta tanda terima atau nomor registrasi. Kalau disampaikan lewat surel, simpan salinan dan tanggal kirim. Kalau lewat sekretariat, minta cap terima pada salinanmu.
Ikuti jadwal rapat berikutnya. Sering kali sebuah pasal dibahas ulang beberapa kali sebelum disetujui. Kalau rumusan yang kamu usulkan muncul di draf berikutnya, itu tanda testimoni dibaca. Kalau tidak, kamu masih bisa mengajukan catatan tambahan selama masa pembahasan belum ditutup.
Simpan seluruh dokumen dalam satu folder. Kalau nanti kamu perlu mengadvokasi aturan turunannya, catatan ini menjadi rujukan yang berguna.
Ringkasan
Menyusun testimoni publik untuk RUU berarti menempelkan argumen pada pasal tertentu, menyertakan data yang bisa diperiksa, dan menawarkan rumusan alternatif. Kirim lewat jalur resmi, minta tanda terima, lalu ikuti perkembangan pembahasannya sampai tuntas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah perorangan bisa mengirim testimoni tanpa lewat organisasi?
Bisa. Namun sertakan identitas jelas dan jelaskan kepentinganmu, misalnya sebagai warga yang terdampak langsung, pelaku usaha di sektor terkait, atau peneliti. Testimoni perorangan yang spesifik dan berbasis pengalaman sering diterima, terutama bila dilengkapi bukti pendukung.
Berapa lama testimoni sebaiknya dibuat?
Tidak ada batas baku. Dokumen tiga sampai lima halaman biasanya cukup untuk menjelaskan posisi secara utuh. Yang penting setiap poin menempel pada pasal tertentu dan usulan perubahannya jelas. Lampiran data bisa dipisahkan dari dokumen utama.
Bagaimana kalau usulan saya tidak masuk ke draf akhir?
Catat alasannya dan simpan dokumenmu. Pembahasan bisa dibuka kembali di tahap berikutnya, misalnya saat penyusunan peraturan pelaksana. Argumen yang sudah tersusun rapi bisa diajukan lagi di forum yang berbeda, termasuk lewat jalur advokasi lain.
